Stock Recommendation: Tempo Scan Pacific (TSPC.JK)

Download PDF (with pictures and figures): TSPC Rekomendasi

6 Juni 2016

Prospek Tempo Scan Pacific di Tengah Program BPJS Kesehatan

Sejarah Singkat Perusahaan. PT Tempo Scan Pacifiic Tbk. (TSPC.JK) merupakan bagian dari Grup Tempo yang telah memulai penjualan produk farmasi sejak tahun 1953. PT Tempo Scan Pacific Tbk dibentuk dari proses restrukturisasi pada tahun 1991 dan semula bernama PT Scanchemie yang memproduksi secara komersial produk farmasi dalam skala besar sejak 1970.

Pada 17 Juni1994 perseroan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Jakarta sebanyak 75.000.000 lembar dengan nominal Rp 1000 per saham dan harga penawaran Rp 8250 per saham. Kemudian pada tahun 1995 dilakukan stock split 1:2 sehingga jumlah saham beredar menjadi 150.000.000 dan nominal Rp 500 per saham. Perseroan melakukan penawaran umum terbatas pada tahun 1998 sebanyak 300.000.000 lembar sehingga seluruhnya berjumlah 450.000.000 lembar saham. Tahun 2006 perseroan kembali melakukan stock split 1:10 sehingga jumlah saham beredar menjadi 4.500.000.000 lembar dengan nominal Rp 50 per saham.

Bisnis & Operasi TSPC. Tempo Scan Pacific memiliki tiga divisi usaha inti yaitu divisi farmasi, produk konsumen dan kosmetika, serta divisi distirbusi yang masing-masing tediri dari beberapa unit usaha. Produk unggulan TSPC adalah Bodrex, Hemaviton, Revlon, Clinique, dan Estee Lauder yang berhasil memenangkan berbagai penghargaan.

Di Indonesia pesaing utama untuk TSPC adalah PT. Kalbe Farma (KLBF.JK) dan PT. Kimia Farma (KAEF.JK). Perusahaan menjual obat-obatan generik serta produk konsumen lainnya yang berkompetisi langsung dengan TSPC.

Tinjauan Perekonomian

Pertumbuhan ekonomi yang melambat masih dialami Indonesia di Kuartal 1 2016, dimana Produk Domestik Bruto hanya berhasil naik 4.9%, jauh lebih rendah dibandingkan target pemerintah sebesar 5.3% sepanjang tahun. Berbagai kebijakan ekonomi sudah diterbitkan oleh pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan menstimulasi konsumsi masyarakat. Terlepas dari rendahnya realisasi di Kuartal 1, terdapat beberapa segmen perekonomian yang masih berhasil melaju di atas ekspektasi, yaitu transportasi, konstruksi, keuangan dan asuransi, serta kesehatan.

Tinjauan Industri

Demografik penduduk Indonesia yang terkonsentrasi pada usia produktif memberikan potensi pasar yang luas untuk berbagai industri termasuk industri farmasi dan kesehatan. Pada tahun 2015 konsumsi kesehatan per kapita hanya sekitar US$24, sangat rendah dibandingkan negara-negara tetangga seperti Filipina dan Vietnam yang mengkonsumsi US$50 dan US$100 per kapita. Konsumsi per kapita untuk biaya kesehatan diprediksi akan terus meningkat dengan bantuan program BPJS Kesehatan yang memiliki peserta sebanyak 166.738.432 orang pada bulan Mei 2016, terlepas dari defisit yang terus membengkak dari Rp 3.3 Triliun pada tahun 2014 menjadi Rp 9.8 Triliun pada tahun 2015. Peningkatan klaim BPJS Kesehatan diprediksi akan terus meningkat di atas 10% dalam 5 tahun ke depan, dengan meningkatnya penduduk Indonesia yang terjamin program Jaminan Kesehatan Nasional maka penjualan obat juga diprediksi akan meningkat secara proporsional. Ekspansi Tempo Scan Pacific di divisi nutrisi juga diprediksi akan meningkatkan penjualan dan laba perusahaan seiring demografik kelas menengah yang meningkat, dengan resiko menurunnyadaya beli masyarakat.

Tinjauan Prospek Industri

Sejak diluncurkannya program BPJS pada tahun 2014 pertumbuhan industri farmasi Indonesia terus mengalami perlambatan, dimana pertumbuhan mencapai 14.4% dan 12.3% pada tahun 2012 dan 2013 melambat hingga 6.5% dan 4.7% pada tahun 2014 dan 2015. Obat resep masih tumbuh 8.1% pada tahun 2015 namun obat bebas (OTC) mengalami penurunan 0.7%, perlambatan pertumbuhan ini lebih dirasakan oleh perusahaan lokal (3.6% yoy) dibandingkan oleh perusahaan multinasional (17.3% yoy) karena obat paten dan OTC hanya sedikit terpengaruh oleh BPJS dibandingkan obat generik. Ketergantungan perusahaan-perusahaan farmasi Indonesia terhadap penjualan obat resep menjadi resiko bagi pertumbuhan penjualan,

Pertumbuhan produk consumer health dan kosmetika diprediksi tidak akan mengalami hambatan sebesar penjualan obat resep, namun masih lemahnya pertumbuhan ekonomi dan daya beli masyarakat Indonesia menjadi resiko penjualan produk konsumer walaupun diversifikasi produk dan target konsumer sudah dilakukan. Meningkatnya kesadaran dan minat masyarakat terhadap kesehatan dan kosmetika personal dapat menjadi pendorong bertumbuhnya penjualan di segmen ini.

Tinjauan Perusahaan

PT Tempo Scan Pacific adalah produsen obat-obatan OTC, generik dan resep, serta produk-produk kesehatan dan kosmetika. Tempo Scan terkenal dengan produk obat seperti Bodrex, Vidoran, NEO Rheumacyl, serta brand seperti Estee Lauder, My Baby, Clinique, MAC, Ultima II di segmen kosmetika. Perusahaan memiliki 2 fasilitas pabrik, yaitu di Cawang sebesar 13.000 m2 dan di Cikarang sebesar 86.000 m2.

Tempo Scan terus mengembangkan produk obat-obatan OTC yang memberikan kontribusi 90% penjualan farmasi perusahaan. Divisi farmasi memberikan kontribusi 26.9% dari penjualan netto sedangkan divisi kesehatan dan kosmetika berkontribusi 27.1% dari penjualan netto. Sisanya sebesar 46% disumbang oleh divisi distribusi yang merupakan penunjang dari dua divisi sebelumnya.

Selain penjualan di dalam negeri, Tempo Scan juga mengekspor obat-obatan ke pasar internasional seperti Malaysia, Filipina, Timur Tengah dan Nigeria. Penjualan ekspor tersebut memiliki kontribusi yang masih rendah yaitu 7.8% dari total penjualan. Di Indonesia, jaringan usaha Tempo Scan mencakup 182 lokasi yang terdiri dari 55 kantor cabang dan 127sales point di 135 kota.

Tinjauan Kinerja Usaha dan Keuangan

Penjualan Tempo Scan tumbuh 13.3% yoy pada kuartal I 2016 menjadi Rp 2.2 triliun dari Rp 1.9 triliun pada kuartal I 2015. Namun laba usaha turun 6.5% yoy karena beban penjualan yang naik 18% pada periode yang sama, menyebabkan penurunan laba tahun berjalan sebesar 10% dari Rp 232.7 miliar menjadi Rp 209.5 miliar. Segmen dari beban penjualan yang naik signifikan adalah biaya iklan dan promosi yang mengalami kenakikan 25% YoY, dampak dari hal tersebut diprediksi akan meningkatkan penjualan di periode-periode berikutnya.

Dari segi profitabilitas TSPC mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir dikarenakan beban penjualan yang naik melebihi pertumbuhan penjualan dan laba anak perusahaan yang terus menurun, tingkat profitabilitas TSPC berada di bawah ROE rata-rata industri yang sebesa 16%. Namun penurunan profitabilitas ini diprediksi tidak akan berlanjut dan akan membaik di tahun-tahun berikutnya. Likuiditas TSPC tergolong sangat baik dengan current ratio dan quick ratio di atas 1, mengindikasikan kemampuan perusahaan untuk membayar hutang dalam jangka pendek. Sedangkan tingkat solvabilitas perusahaan tergolong wajar dan tidak memberikan indikasi terancamnya going concern.

Harga Wajar Saham TSPC Rp2280,-. Penilaian harga saham TSPCmenggunakan model Earnings per Share menghasilkan harga wajar Rp. 2280,-. Ekspektasi kinerja perusahan disesuaikan dengan pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan industri dan kinerja perusahaan sendiri. Proyeksi pertumbuhan penjualan diasumsikan bertumbuh rata-rata 8% selama periode proyeksi, sedangkan pendapatan bersih diperkirakan rata-rata bertumbuh 8.08%. Terminal value diestimasi memiliki pertumbuhan sebesar 4% sesuai pertumbuhan ekonomi Indonesia yang konservatif.

Analisa Teknikal

TSPC secara teknikal sedang mengalami tren pelemahan dalam jangka pendek dengan indikator parabolic SAR mengindikaskan jual namun MACD yang mengindikasikan kemungkinan reversal menjadi bullish saat crossing axis horizontal. Resistance terdekat berada pada level 1990. Bila level 1990 berhasil ditembus, target harga berikutnya di level 2070. Namun bila terjadi pembalikan arah support terdekat pada level 1850. Bila level 1850 ditembus target harga berikutnya pada level 1810. Secara teknikal TSPC direkomendasikan Buy on Weakness (BoW).

Published by Journeyman

A global macro analyst with over four years experience in the financial market, the author began his career as an equity analyst before transitioning to macro research focusing on Emerging Markets at a well-known independent research firm. He read voraciously, spending most of his free time following The Economist magazine and reading topics on finance and self-improvement. When off duty, he works part-time for Getty Images, taking pictures from all over the globe. To date, he has over 1200 pictures over 35 countries being sold through the company.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: