Stock Recommendation: Metrodata Electronics (MTDL.JK)

Donwload PDF (with pictures and figures): MTDL Rekomendasi

13 Juni 2016

Bertumbuh di Tengah Perlambatan Ekonomi Global

Sejarah Singkat Perusahaan. PT Metrodata Electronics Tbk. (MTDL.JK) merupakan perusahaan yang bergereak di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi yang didirikan pada 17 Februari 1983. Sejak didirikan, perseroan mengalami perubahan nama beberapa kali dan pada 28 Maret 1991 namanya menjadi PT Metrodata Electronics Tbk hingga sekarang.

Pada 28 Mei 1990 perseroan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Jakarta sebanyak 1.468.000 lembar dengan nominal Rp 1000 per saham dan harga penawaran Rp 6800 per saham. Pada 10 Agustus 1998 dan 16 November 1999 dilakukan stock split menjadikan nilai nominal Rp 50 per saham. Sejak saham perseroan dicatatkan di bursa telah dilakukan konversi opsi karyawan dan pemberian dividen saham beberapa kali.

Pada tahun 2008 perseroan melakukan akuisisi Soltius Asia Pte Ltd, perusahaan konsultan SAP. Perusahaan juga membeli 37.21% saham PT Xerindo Teknologi yang bergerak di bidang perencanaan radio, instalasi, pengujian, perawatan, dsb. Pada Januari 2011, perseroan mendirikan entitas anak, PT My Icon Technology yang bergerak di bidang ritel produk TIK kepada konsumen .Pada September 2011 perseroan mendirikan perusahaan patungan dengan Synnex, perusahaan ketiga terbesar di dunia dan terbesar di Asia dalam distribusi produk TIK.

Bisnis & Operasi MTDL. Metrodata memiliki tujuh anak perusahaan yang bergerak di tiga divisi usaha inti yaitu distribusi, konsultasi dan solusi. Perseroan saat ini bermitra dengan perusahaan TIK dunia seperti Adobe, ASUS, Cisco, Dell, IBM, Microsoft, dll.

Di Indonesia pesaing utama untuk MTDL adalah PT. Multipolar Technology (MLPT.JK) Perusahaan menyediakan jasa konsultasi dan business process yang berkompetisi langsung dengan MTDL.

Tinjauan Perekonomian

Pertumbuhan ekonomi yang melambat masih dialami Indonesia di Kuartal 1 2016, dimana Produk Domestik Bruto hanya berhasil naik 4.9%, jauh lebih rendah dibandingkan target pemerintah sebesar 5.3% sepanjang tahun. Berbagai kebijakan ekonomi sudah diterbitkan oleh pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan menstimulasi konsumsi masyarakat. Terlepas dari rendahnya realisasi di Kuartal 1, terdapat beberapa segmen perekonomian yang masih berhasil melaju di atas ekspektasi, yaitu transportasi, konstruksi, jasa bisnis, keuangan dan asuransi, serta kesehatan.

Tinjauan Industri

Terlepas dari melambatnya pertumbuhan ekonomi tahun 2015 dan kuartal 1 tahun 2016, industri TIK masih dapat bertumbuh 8.1% di awal tahun ini. Walaupun terjadi perlambatan ekonomi yang menyebabkan perusahaan-perusahaan menunda belanja infrastruktur teknologi dan pembaharuan teknologi yang sudah ada, permintaan terhadap produk-produk TIK tetap berada di atas pertumbuhan permintaan rata-rata. Pertumbuhan permintaan atas jasa bisnis dikarenakan kemajuan digital di Indonesia menjadi kesempatan bagi penyedia layanan dan distributor produk-produk TIK untuk meningkatkan jangkauannya ke seluruh Indonesia. Dengan adanya era digital permintaan masyarakat terhadap produk-produk elektronik seperti laptop, PC, smartphone, printer, dan produk penyertanya ikut meningkat dan mendukung bertumbuhnya segmen TIK di Indonesia. International Data Corporation (IDC) memprediksi belanja TIK Indonesia tahun 2016 mencapai US$15.3 miliar, tumbuh 8.3% dari tahun 2015 sebesar US$14.1 miliar

Tinjauan Prospek Industri

Negara dengan tingkat perkembangan TIK rendah mempunyai potensi pertumbuhan bisnis TIK sangat tinggi karena kebutuhan akan infrastruktur, pelatihan dan jasa TIK lain yang besar. Indonesia sebagai negara yang memiliki kebutuhan besar akan teknologi akan menjadi target pasar yang besar di Asean bagi pemain TIK dunia, penetrasi pasar ke Indonesia dapat dilakukan secara langsung maupun usaha patungan dengan perusahaan lokal. Penetrasi smartphone yang masih rendah dibandingkan negara-negara tetangga menjadikan Indonesia sebagai pasar yang besar bagi produsen dan distributor smartphone dalam rentang 5-10 tahun ke depan. Ekspektasi akan membaiknya pertumbuhan ekonomi dunia dan Indonesia dalam rentang 5 tahun ke depan diprediksi akan menstimulasi perusahaan-perusahaan untuk melakukan belanja infrastruktur teknologi dan pembaharuan teknologi yang sudah ada. Belanja teknologi Indonesia tahun 2016 diperkirakan sebesar US$15.3 miliar, setara dengan 2% GDP

Tinjauan Perusahaan

PT Metrodata Electronics adalah distributor produk-produk TIK dan penyedia layanan konsultasi dan solusi bisnis di Indonesia. Saat ini perseroan bermitra dengan perusahaan TIK dunia, di antaranya Adobe, ASUS, Cisco, EPSON, Fuji Xerox, Fujitsu, Hitachi Data Systems, Hewlett Packard Enterprise, Huawei, IBM, Lenovo, McAfee, Microsoft, MSI, Murex, NetApp, Nintex, Nutanix, Oracle, OrangE, Pearson Vue, Philips, Prometric, Qlik, RedHat, Riverbed, Remedy, Ruckus, Salesforce, Samsung, SAP, Sbox- Splunk, SpeedUp, Stratus, Symantec, Transcend, Trend Micro, Veritas, VMware, WebMethods, dan ZTE.

Metrodata merupakan satu-satunya perusahaan TIK yang tercatat dalam Indonesia Fortune 100, dan menerima penghargaan bergengsi dari media lainnya seperti The Best 50 Companies – Majalah Forbes Indonesia, The Most Powerful & Valuable Company – Majalah Warta Ekonomi, Top Issuer – Majalah Investor dan Asia’s Best Companies 2015 (Best Small-Cap category) – Majalah FinanceAsia. Di tahun 2015, divisi telekomunikasi perseroan mencatatkan pertumbuhan penjualan menjadi dua kali lipat tahun sebelumnya, memberi kontribusi 15% dari penjualan perseroan. Metrodata juga memiliki bisnis e-commerce melalui metrodatao online. Pada tahun 2015 perseroan melebarkan jaringan usahanya dengan melakukan ekspansi ke Indonesia Timur dan membuka perwakilan di Makassar, Manado, dan Nusa Tenggara.

Tinjauan Kinerja Usaha dan Keuangan

Penjualan Metrodata Electronics tumbuh 3.5% yoy pada kuartal I 2016 menjadi Rp 2.27 triliun dari Rp 2.2 triliun pada kuartal I 2015. Namun laba usaha turun 5.33% yoy karena beban penjualan yang naik, menyebabkan laba tahun berjalan tetap sebesar Rp 57 miliar. Kenaikan terbesar disumbangkan oleh kenaikan gaji dan kesejahteraan karyawan yang naik 21% dari Rp 53.7 miliar menjadi Rp 64 miliar. Peningkatan penjualan tertinggi disumbangkan oleh segmen jasa dan perangkat lunak, penjualan di ketiga segmen berhasil meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, namun hanya laba kotor segmen distribusi perangkat keras yang mengalami peningkatan signifikan sebesar 75%, sedangkan laba kotor segmen jasa dan perangkat lunak turun 7% dan 29%.

Dari segi profitabilitas MTDL mengalami penurunan margin laba kotor dalam beberapa tahun terakhir, namun manajemen berhasil melakukan efisiensi operasional sehingga margin laba operasional mengalami tren kenaikan disertai perbaikan margin laba bersih. Rasio pengembalian kepada ekuitas dan debitur juga mengalami perbaikan selema 5 tahun terakhir. Dari segi likuiditas perseroan tergolong baik dengan current ratio di atas 1 yang mengindikasikan kemampuan perseroan untuk melunasi hutang jangka pendeknya, dengan mengeluarkan persediaan sebagai aset jangka pendek didapatkan quick ratio yang juga masih di atas 1. Dalam jangka panjang perseroan diprediksi tidak akan mengalami masalah going concern yang berarti, dalam 3 tahun terakhir terdapat tren penurunan penggunaan hutang oleh perseroan namun hal ini disertai penurunan asset turnover.

Tinjauan Kinerja Usaha dan Keuangan

Penjualan Metrodata Electronics tumbuh 3.5% yoy pada kuartal I 2016 menjadi Rp 2.27 triliun dari Rp 2.2 triliun pada kuartal I 2015. Namun laba usaha turun 5.33% yoy karena beban penjualan yang naik, menyebabkan laba tahun berjalan tetap sebesar Rp 57 miliar. Kenaikan terbesar disumbangkan oleh kenaikan gaji dan kesejahteraan karyawan yang naik 21% dari Rp 53.7 miliar menjadi Rp 64 miliar. Peningkatan penjualan tertinggi disumbangkan oleh segmen jasa dan perangkat lunak, penjualan di ketiga segmen berhasil meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, namun hanya laba kotor segmen distribusi perangkat keras yang mengalami peningkatan signifikan sebesar 75%, sedangkan laba kotor segmen jasa dan perangkat lunak turun 7% dan 29%.

Dari segi profitabilitas MTDL mengalami penurunan margin laba kotor dalam beberapa tahun terakhir, namun manajemen berhasil melakukan efisiensi operasional sehingga margin laba operasional mengalami tren kenaikan disertai perbaikan margin laba bersih. Rasio pengembalian kepada ekuitas dan debitur juga mengalami perbaikan selema 5 tahun terakhir. Dari segi likuiditas perseroan tergolong baik dengan current ratio di atas 1 yang mengindikasikan kemampuan perseroan untuk melunasi hutang jangka pendeknya, dengan mengeluarkan persediaan sebagai aset jangka pendek didapatkan quick ratio yang juga masih di atas 1. Dalam jangka panjang perseroan diprediksi tidak akan mengalami masalah going concern yang berarti, dalam 3 tahun terakhir terdapat tren penurunan penggunaan hutang oleh perseroan namun hal ini disertai penurunan asset turnover.

Harga Wajar Saham MTDL Rp. 905,-. Penilaian harga saham MTDL menggunakan Dividend Discount Model menghasilkan harga wajar Rp. 905,-. Ekspektasi kinerja perusahan disesuaikan dengan pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan industri dan kinerja perusahaan sendiri. Dividen payout ratio menggunakan 26% EPS, sesuai dengan kebijakan dividen perseroan antara 20-30% laba bersih. Proyeksi pertumbuhan penjualan diasumsikan bertumbuh rata-rata 10.5% selama periode proyeksi, sedangkan pendapatan bersih diperkirakan rata-rata bertumbuh 9.8%. Terminal value diestimasi memiliki pertumbuhan sebesar 7% sesuai pertumbuhan industri TIK Indonesia yang konservatif.

Analisa Teknikal

MTDLsecara teknikal sedang mengalami tren penguatan dalam jangka pendek dengan indikator parabolic SAR mengindikaskan beli namun MACD yang mengindikasikan konsolidasi sebelum bergerak lebih jauh. Resistance terdekat berada pada level 740. Bila level 740berhasil ditembus, target harga berikutnya di level 770. Namun bila terjadi pembalikan arah support terdekat pada level 720. Bila level 720 ditembus target harga berikutnya pada level 700. Secara teknikal TSPC direkomendasikan Buy on Weakness (BoW).

Published by Journeyman

A global macro analyst with over four years experience in the financial market, the author began his career as an equity analyst before transitioning to macro research focusing on Emerging Markets at a well-known independent research firm. He read voraciously, spending most of his free time following The Economist magazine and reading topics on finance and self-improvement. When off duty, he works part-time for Getty Images, taking pictures from all over the globe. To date, he has over 1200 pictures over 35 countries being sold through the company.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: